Spirit Mataram

Gelar Budaya Banaran Galur KulonprogoNiyat ingsun nyebar ganda arum, tyas manis kang mantesi, aruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama

Semangat Mataram

Mungkin generasi zaman sudah lupa atau sudah tidak populer lagi dengan istilah Semangat Mataram. Semangat Mataram merupakan visi yang dipegang oleh Keraton Mataram dan rakyat Mataram, yang berisi tiga pandangan hidup yakni : Mangasah Mingis-ing budi, memasuh malaning bumi, hamemayu hayuning bawana. Pandangan hidup itu melandasi semangat dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, khususnya berlaku untuk Kraton dan rakyat Mataram, lebih khususnya bagi rakyat Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Mangasah Mingising Budi

Artinya, mengasah ketajaman budi. Budi dalam bahsa Jawa disebut penggalih. Tidak mudah memahami makna dari istilah budi atau penggalih ini. Kiranya saya perlu memberikan definisi dan penjabaran yang gamblang dan mudah dipahami oleh para pembaca yang budiman.

Continue Reading >>

Rahasia Alam

Hukum dan Rumus-Rumus Alam Semesta

Dunia bawah lautKita semua tentu cukup familiar dengan istilah “hukum alam”. Begitu pula istilah rumus-rumus, dan semua rumus yang digunakan di semua disiplin ilmu pengetahuan merupakan bagian dari rumus-rumus alam. Jika hukum alam diumpamakan sebagai “pasal” maka rumus-rumus alam dapat diidentikkan dengan “ayat-ayat”. Sebagian yang lain menyebut hukum alam atau rumus itu sebagai bahasa alam. Seperti apa rumus-rumus alam dimaksud ? Sebagai contoh dapat dilihat dalam rumus-rumus yang dimiliki oleh berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bahkan jagad raya ini sesungguhnya “kitab undang-undang” atau “buku” yang berisi milyaran bahkan trilyunan rumus-rumus alam. Hukum alam mencakup seluruh rumus-rumus alam, yakni semua peristiwa yang terjadi di ruang kosmos dalam hubungan saling berkaitan, yang lazimnya disebut hubungaan sebab-akibat, atau hukum timbal-balik. Prosesnya disebut sebagai dinamika perubahan alam. Dan satu-satunya yang tidak berubah di jagad raya ini adalah dinamika atau perubahan itu sendiri.

Continue Reading >>

Pesta Budaya Birau 12-21 Oktober 2014

Pekan budaya yg penuh nilai estetika dan nilai luhur
BIRAU DAN RITUAL ADAT KASULTANAN BULUNGAN

BIRAU merupakan sebuah kata dalam bahasa suku Bulungan yang berarti perayaan besar (pesta agung). Dilaksanakan di wilayah Kasultanan Bulungan yang telah berkuasa secara turun temurun. Secara umum upacara ini dilaksanakan saat perkawinan putera-puteri Sultan, khitanan putra Sultan, naik ayun/injak tanah putera-puteri Sultan. Bilau yang paling besar biasanya dilaksanakan pada saat penobatan Sultan Bulungan.

Setiap penyelenggaraan Birau sarat dengan berbagai upacara ritual adat bercirikan khas Bulungan. Selain itu diikuti pula dengan berbagai hiburan rakyat. Birau menjadi sarana betenguyun (=partisipasi) warga masyarakat Bulungan pada masa itu. Masa kini, Birau juga selalu melibatkan warga masyarakat Bulungan.

Makna mendalam dari Birau dapat dilihat dalam motto “MERUDUNG PEBATUN BENUANTA” (bahasa Bulungan), yang merupakan kata kiasan untuk membangkitkan semangat betenguyun (= partisipasi) para warga masyarakat Bulungan.

Continue Reading >>

Selamat Datang Sura Pinunjul

Sebentar lagi tahun Jawa 1947 Alip gunung dengan sinengkalan sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad akan segera berlalu. Sebelum meninggalkan tahun 1947 saya coba sampaikan sedikit ulasan sebagai evaluasi. Semoga ada manfaat yang dapat kita ambil dari berbagai peristiwa dan fenomena alam yang telah terjadi selama tahun 1947 Alip  atau 5 Nopember 2013 sampai dengan 25 Oktober 2014.

Sebelum mengulas Sura Pinunjul yang akan datang saya perlu flashback karena di antara kedua fase yang sedang berlangsung dan yang akan datang saling berkaitan erat secara runtut. Sinengkalan sapta tirta nembus bumi, panca agni nyuceni jagad mempunyai makna ganda yang meliputi dimensi makrokosmos dan mikrokosmos. Yakni makna yang menunjukkan fenomena yang terjadi pada alam semesta dan pada individu manusia. Panca agni dalam dimensi mikrokosmos atau diri manusia mempunyai makna bahwa selama rentang waktu tersebut terjadi kobaran “api” atau hawa nafsu angkara dari dalam diri manusia. Bergolaknya kobaran “api” itu telah membakar emosi dan hawa nafsu manusia. Kobaran itu lebih dirasakan dalam kancah politik makro. Di mana dinamika politik diwarnai dengan gejolak manusia untuk berkuasa dan saling memukul lawan, maupun “kawan”. Dalam scope yang lebih luas, “api” hawa nafsu telah “menembus bumi”, menyeruak sendi-sendi kehidupan sosial dan politik masyarakat. Hilangnya rasa malu dan takut dosa atau karma menjadi gambaran (sebagian)  manusia masa kini. Bahkan sangat ironis lambaian tangan dan senyum manis seolah menjadi ikon para pejabat koruptor yang sedang ditangkap KPK. Seolah mereka ingin membuat kesan dan pencitraan bahwa dirinya tetap pede karena menganggap penangkapan KPK sebagai hal yang lucu karena telah salah menangkap orang.

Continue Reading >>